Indonesia Diklaim Pasar Narkoba Terbesar di Dunia
Badan PBB untuk Obat-Obatan dan Kriminal (UN Office on Drugs and Crime/UNODC) merilis laporan meningkatnya permintaan narkoba di Asia Timur dan Tenggara sehingga membuat kawasan tersebut sebagai pasar terbesar dunia dalam peredaran global narkoba.
Menurut laporan "UNODC 2014 Global Synthetic Drugs Assessment - Amphetamine-type Stimulants and New Psychoactive Substances" yang dirilis di Tokyo, Selasa, tingginya jumlah sabu-sabu yang disita secara global dipicu oleh naiknya jumlah penyitaan di Asia Timur dan Tenggara serta Amerika Utara.
Justice Tettey, Kepala Unit Laboratorium dan Sains UNODC dalam peluncuran laporan tersebut mengatakan tren penyitaan sabu-sabu terus meningkat hingga tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir hingga mencapai 36 metrik ton.
Sabu dan pil ekstasi merupakan produk olahan dari obat-obatan berjenis amphetamine-type stimulants (ATS).
Dalam laporan itu, Tiongkok menempati urutan teratas dari total penyitaan di Asia hingga mencapai 16 metrik ton. Thailand menyusul dengan total sabu disita sebanyak 95 juta butir pil dan 1,6 metrik ton dalam bentuk kristal. Sementara Indonesia berada di urutan ketiga total penyitaan hingga 2,1 metrik ton.
"Hal ini mengindikasikan bahwa sindikat kriminal transnasional masih terus menjadikan Indonesia sebagai pasar yang menggiurkan dalam perdagangan sabu, terutama jenis kristal," ujar Tettey seperti dikutip dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Selasa.
Dia juga menjelaskan kenaikan permintaan di pasar Asia untuk jenis sabu serta munculnya permintaan untuk zat psikoaktif jenis baru telah terpenuhi oleh produsen skala besar yang berbasis di negara sekitar Tiongkok, yakni Myanmar dan Filipina.
Ada pun sindikat kriminal terorganisir dari Meksiko, Timur Tengah, Asia Selatan dan Barat, serta Afrika Barat, disebut dalam laporan itu mulai meningkatkan perdagangannya hingga ke Jepang dan negara lainnya di Asia Timur dan Tenggara serta Oceania.
"Rute pasokan internasional baru ke Asia dari Amerika dan Afrika Barat telah muncul dan melengkapi produksi sabu di Asia. Afrika Barat menjadi sumber perdagangan sabu ke Eropa dan Timur dan Asia Tenggara. Turki juga menjadi titik transit untuk penyelundupan sabu dari Asia Barat ke Timur dan Asia Tenggara," kata Tettey.
Pihaknya mengungkapkan, penyebaran sabu secara terus menerus di wilayah Asia ini difasilitasi oleh integrasi regional dan adanya arah mobilisasi obat sintetis tersebut dapat diproduksi dimanapun.
Kondisi tersebut memunculkan tantangan bagi sistem peradilan pidana dan penyedia layanan kesehatan bagi masyarakat, terutama negara dengan populasi kelompok usia muda yang besar.
"Obat-obatan sintetis ini, terutama sabu dan zat psikoaktif jenis baru memberi dampak yang sangat besar bagi polisi, pengadilan, penjara dan sistem layanan kesehatan di semua negara di kawasan regional ini," kata Jeremy Douglas, Perwakilan Regional UNODC untuk kawasn Asia Tenggara dan Pasifik.
Meningkatnya ancaman obat sintetik itu menjadi semakin parah bagi Asia dikarenakan pusat produksi ATS dan zat psikoaktif jenis baru berada di wilayah sekitarnya.
"Seluruh negara di kawasan ini merasa sangat prihatin dengan adanya produksi obat terlarang, pengalihan bahan kimia prekursor yang digunakan untuk membuat sabu dan zat psikoaktif jenis baru, sindikat kejahatan terorganisir, serta rentannya wilayah perbatasan," kata Douglas.(ant/ris)
No comments:
Post a Comment